SARANA ADVOKASI & EDUKASI

Platform Penyebaran Informasi Ketenagakerjaan, Hukum, Peraturan serta Layanan Pengaduan PMI Taiwan

Aplikasi Mobile SAVE PMI Taiwan

Jangan Ketinggalan Info Ketenagakerjaan, Silahkan Instal Aplikasi Save Mobile Taiwan di Google Playstore

KDEI Taipei Gencar Sosialisasi Perpanjangan PK di Taiwan dan BPJS

Kini di Taiwan sudah bisa mendaftar online PK dan BPJS TK

(Update) Cara Perpanjang PK dan Daftar BPJS Ketenagakerjaan di Taiwan

Pengumuman terbaru terkait Proses legalisasi Perjanjian Kerja Bagi TKI yang melakukan Perpanjangan Kontrak 3 (tiga) tahun pada KDEI di Taipei.

FB SAVE PMI Taiwan

Ayo Bergabung dalam Grup SAVE PMI TAIWAN - Media Berbagi Seputar Ketenagakerjaan di Taiwan

Akun Line SAVE PMI TKI Taiwan

Ayo Gabung Line@savepmitaiwan

Cari Info Cepat !

17 September 2019

Kampung PMI Nglanggeran Menjadi Desa Wisata dan Raih Penghargaan UNESCO


Yogyakarta, BNP2TKI  (18/09/19) Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, yang mempunyai luas wilayah 762,7909 ha adalah satu-satunya desa yang memiliki Pekerja Migran Indonesia  (PMI) paling banyak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2012  desa tersebut diresmikan menjadi kampung PMI oleh Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Gatot Abdullah Mansyur.
Pengembangan desa wisata Nglanggeran dibangun mulai tahun 2008, dengan membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang salah satu inisiatornya adalah Triyana, mantan PMI Korea. "Idenya berawal dari keprihatinannya terhadap banyaknya warga yang pergi ke luar daerah atau ke luar negeri.  Berbekal potensi daerah dan sudah banyaknya kunjungan ke desa, tren menjadi PMI itu mulai berubah,"ujarnya 
Kemudian, kelompok PMI Purna yang dibentuk oleh Triyana mencoba mengajukan proposal pendampingan kepada BP3TKI Yogyakarta terkait pelatihan dan edukasi, disamping juga untuk merubah mindset warga.Triyana mengaku, pendampingan tersebut membuat warga tergerak untuk bersama-sama merintis desa wisata Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul untuk diolah menjadi aset wisata sehingga mereka tidak berangkat lagi ke luar negeri.
Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogyakarta, Suparjo menyampaikan,  bahwa sejak tahun 2010 BNP2TKI telah melakukan pelatihan dan edukasi melalui program pemberdayaan terintegrasi kepada 110 orang PMI Purna maupun keluarganya di Desa Ngelangeran, Gunung kidul. "Kami juga terus melakukan pendampingan agar desa tersebut menjadi lebih maju dan berkembang sehingga dapat menarik lebih banyak lagi para wisatawan baik lokal maupun asing”. jelas Suparjo.
Pelatihan yang diberikan antara lain tour dan travel, sablon, kuliner ayam dan bahasa Inggris guna mendukung pengembangan menjadi desa wisata.
Penghargaan UNESCO
Tahun 2015 desa Ngelanggeran ditetapkan UNESCO sebagai kawasan Global Geopark Network karena keberadaan gunung api purbanya dan embung besar. Gunung api purba merupakan gunung batu dari karst atau kapur dan pernah aktif jutaan tahun yang lalu, sementara embung adalah bangunan berupa kolam seperti telaga di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut. Embung dengan luas sekitar 5.000 meter persegi itu berfungsi menampung air hujan untuk mengairi kebun buah di sekeliling embung.
Dalam rangka kegiatan ASEAN Tourism Forum tahun 2017 di Singapura, desa ini juga  memperoleh penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik I Indonesia dan menerima penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award.
Tidak sampai disitu, tahun 2018 desa Nglanggeran juga meraih penghargaan ASEAN Sustainable Tourism Award dalam rangka ASEAN Tourism Forum.
Dari sekian banyak prestasi yang sudah diraih, menurut Triyana yang juga merupakan Ketua paguyuban PMI  Purna Tunas Jaya, dahulu berangkat ke luar negeri menjadi PMI sempat menjadi primadona di desanya. Sehingga mayoritas warga mencari nafkah dengan berangkat menjadi pekerja migran di negeri orang. "Mayoritas masyarakat kami dulu menjadi PMI ke Malaysia, dan ada juga yang ke Korea. Trennya itu berangkat, pulang, kemudian berangkat lagi," jelasnya.
Desa yang berkembang dari tahun 2012 sudah mendapatkan omset pengelolaan sebesar Rp.81.225.000 dengan total wisatawan 27.875 orang. Dan pada tahun 2018 dengan jumlah wisatawan baik lokal maupun asing sebanyak 142.179 orang mampu mencapai omset hingga 3 Milyar.
Jenis usaha yang ditekuni oleh para PMI Purna antara lain pembuatan makanan ringan seperti bakpia, ternak sapi, kambing etawa dan ayam pedaging, usaha homestay, serta warung kelontong dan warung makan disekitar wisata itu.

Saat ini Desa Nglanggeran sudah terdapat berbagai fasilitas seperti outbound, home stay, Jalur pendakian, gardu pandang, Camping ground, MCK/ Toilet, papan informasi, tempat ibadah, tempat parkir, pendopo, lokasi parkir,pemandu wisata dan setiap pengunjung yang datang sudah terlindungi dengan asuransi. Tersedia pula paket Wisata seperti live in, camping, out bond, sunset, sunrise, climbing & Rafting, tempat penelitian, Tracing, Flying Fox, Tempat Makrab, Jelajah Alam beserta wisata budaya dan ritual.
Ditempat terpisah, Direktur Pemberdayaan BNP2TKI,  A Gatot Hermawan mengungkapkan rasa bangganya kepada warga desa Nglanggeran yang tidak lagi berangkat menjadi PMI, dan memilih untuk membangun desa nya menjadi desa wisata yang tidak hanya diakui wisatawan lokal namun juga wisatawan asing. 
"Saya berharap upaya para TKI purna di desa Nglanggeran ini dengan membentuk paguyuban dan bisa mengelola sebuah desa menjadi tempat wisata secara mandiri patut dijadikan contoh para TKI dan keluarganya di seluruh Indonesia”. Pungkas Gatot. (Humas/Tha)
Sumber : BNP2TKI

14 September 2019

BNP2TKI Bekerja Sama Dengan OJK dan Pegadaian Dalam Kegiatan Edukasi Keuangan Outreach Program Bagi Keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI)

P4TKI Banyuwangi dalam Kegiatan Edukasi Keuangan Outreach Program Bagi Keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI)

Banyuwangi, BNP2TKI (12/9) - - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengadakan kegiatan edukasi keuangan bagi keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bertajuk Outreach Program Bagi Keluarga PMI yang berlangsung di Hotel New Surya, Banyuwangi, Jawa Timur, dan dibuka oleh Kepala Kantor OJK Jember, Azilsyah Noerdin pada hari Rabu (11/09/2019).
Program ini merupakan bagian dari program edukasi keuangan untuk melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, dengan meningkatkan pengetahuan mengenai pengenalan industri Jasa Keuangan serta pemanfaatan produk dan jasa keuangan. Seratus peserta yang merupakan keluarga PMI yang akan didampingin oleh 10 penyuluh dari internal BNP2TKI dalam hal ini P4TKI Banyuwangi dan juga dari Komunitas Keluarga Buruh Migran (KKBM) serta unsur Non Government Organization (NGO).
Selanjutnya, Kepala Subdirektorat Kerjasama Antar Lembaga, Direktorat Pemberdayaan, BNP2TKI, Abri Danar Prabawa dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama pemberdayaan PMI antar lembaga seperti BNP2TKI, OJK, dan Pegadaian sebagai salah satu bentuk upaya pemerintah dalam mensejahterakan para Pekerja Migran Indonesia beserta keluarganya.
Acara ini juga dihadiri oleh Deputi Direktur Edukasi Keuangan OJK Jalius, Kepala Bidang Penempatan Disnaker Banyuwangi, Nunuk Sri Rahayu serta Koordinator P4TKI Banyuwangi Muhammad Iqbal. Pemateri pertama yang merupakan seorang Financial Planner, Reni K. Ashuri mengingatkan kepada para peserta bahwa sudah bukan rahasia lagi jika PMI mempunyai gaji yang lumayan besar. Namun, setelah kembali ke tanah air kehidupannya bisa jadi tidak lebih baik dari sebelum berangkat. Oleh sebab itu, perlu perencanaan dan pencatatan keuangan agar mengetahui digunakan untuk apa saja uang kita selama ini.
“Resep sukses keuangan itu adalah 10, 20, 30, dan 40. Yang pertama, 10% merupakan biaya sosial, 20% untuk tabungan dan investasi, 30% adalah maksimal cicilan utang dan 40% adalah balanja kebutuhan sehari-hari.” Ujarnya.
Materi selanjutnya untuk pengenalan investasi, Vice President PT. Pegadaian Area Jember, Yohanis Wulang mengenalkan produk investasi yang paling minim resiko dan dengan modal sangat kecil, yaitu Tabungan Emas. Beliau menjelaskan hanya dengan uang Rp 7.200 sudah bisa memulai tabungan emas, tidak perlu menabung sampai dengan Rp 700.000 untuk satu gram emas. Dengan menabung emas setidaknya uang yang didapat tidak akan berkurang karena dirampok.
“Walaupun uang kita aman jika disimpan, tapi diam-diam ada rampok yang mengambil uang kita, yaitu inflasi”, jelas Yohanis.
Dihadirkan juga para motivator yang merupakan keluarga PMI dan PMI Purna yaitu Khrisna Adi dan Sulastri yang menceritakan pengalamannya memulai usaha dari menjadi PMI sampai sekarang bisa sukses membangun usaha sendiri.
Kemudian, Deputi Direktur Edukasi Keuangan OJK, Jalius memaparkan mengenai tugas dan fungsi OJK, pengenalan berbagai macam produk investasi aman dan juga kewaspadaan terhadap berbagai jasa keuangan.
“Jangan sekali-kali mempercayakan uang anda kepada jasa keuangan tanpa logo OJK”, pesan Jalius.
Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan kepada para peserta dalam mengelola keuangan demi menciptakan kesejahteraan yang lebih baik bagi para PMI Purna ataupun keluarga PMI yang saat ini masih bekerja di luar negeri. Nantinya 100 peserta tersebut akan dibiasakan mencatat seluruh kegiatan keuangan yang setiap bulannya akan dilaporkan kepada 10 orang penyuluh *** ( Humas/P4TKI Banyuwangi/Iqbal) editor :F

09 September 2019

BP3TKI Jakarta Kembali Fasilitasi CPMI ke Taiwan Melalui Program SP2T


Jakarta, BNP2TKI (6/9) - - BP3TKI Jakarta melaksanakan seleksi perekrutan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Shin Kong Textile Co., Ltd. Taiwan melalui program Special Program Placement To Taiwan (SP2T) batch IV di Kantor BP3TKI Jakarta pada Jumat, (06/09). Seleksi ini diikuti oleh delapan orang CPMI dari beragam daerah.
BP3TKI Jakarta saat memfasilitasi proses seleksi empat CPMI ke Taiwan Melalui Program SP2T

Dihadiri oleh Kepala BP3TKI Jakarta, Kasubdit Pemetaan Potensi Tenaga Kerja Luar Negeri BNP2TKI, Kepala Seksi dan Kelembagaan Pemasyarakatan Program BP3TKI Jakarta, ke delapan CPMI melaksanakan sesi wawancara dan seleksi melalui skype langsung oleh Human Resources Department (HRD) Shin Kong Textile Co., Lt Taiwan, Direct Hiring Selection Center (DHSC) Taiwan, serta Kamar Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taiwan. Sebagian besar pertanyaan wawancara meliputi latar belakang, motivasi kerja, keahlian dan lain sebagainya.
Setelah tahap wawancara dan seleksi selesai, hanya empat orang CPMI yang sesuai kriteria dan dinyatakan diterima untuk proses penyelesaian dokumen pemberangkatan. Keempat kandidat tersebut adalah Cindy Oktrinavyra (Jakarta), Siti Hardiyanti (Bogor), Eka Ristyawati (Lampung) dan Octaviani (Blitar).
Kepala BP3TKI Jakarta, Mucharom Ashadi menjelaskan bahwa program ini merupakan program khusus yang sangat membantu para CPMI dalam hal pendanaan biaya pemberangkatan.
“Program ini merupakan program khusus, karena CPMI dapat menghemat biaya pemberangkatan. Semua biaya yang dikeluarkan nantinya akan dikembalikan oleh pihak perusahaan kecuali biaya paspor”, jelasnya.
Mucharom menambahkan bahwa, Curriculum Vitae (CV) untuk peserta yang gagal seleksi tetap akan diinformasikan ke perusahaan – perusahaan lain di Taiwan.
Kasubdit Pemetaan Potensi Tenaga Kerja Luar Negeri BNP2TKI, Yudi Prasetyo menerangkan bahwa sampai saat ini terdapat 66 data CPMI yang akan diproses dan dikirim ke KDEI Taiwan untuk selanjutnya diserahkan ke DHSC.
Sebelumnya, BP3TKI Jakarta telah memfasilitasi tujuh orang CPMI untuk bekerja pada perusahaan yang sama sejak bulan Mei lalu. Pada batch I sebanyak dua CPMI lolos seleksi, batch II sebanyak tiga CPMI dan batch III sebanyak dua CPMI. CPMI ini nantinya akan bekerja selama tiga tahun.
Bagi para pencari kerja yang berniat mengikuti program SP2T ini dapat mengirimkan CV dan lamaran kerja ke email kelembagaan.bp3tkijkt@gmail.com atau bisa mengunjungi website www.bp3tkijakarta.com. Bagi yang ingin mendaftar secara online dapat pula melalui portal jobsinfo BNP2TKI. 
Sumber : BNP2TKI

04 September 2019

[VIDEO] - Info Singkat Skema Baru Bekerja ke Taiwan Melalui Skema Mandiri (SP2T)

Sobat PMI Taiwan !

Salah satu skema penempatan PMI ke tujuan penempatan adalah melalui skema mandiri. Yang baru-baru ini untuk Taiwan ada yang dikenal dengan SP2T (Special Placement Program to Taiwan), yang sudah dimulai penempatannya untuk bekerja pada pengguna berbadan hukum (pabrik).

Simak Videonya berikut  ini :


Terima kasih semoga bermanfaat !

Temukan juga info lainnya di app Save PMI Taiwan

03 September 2019

Pelepasan PMI ke Taiwan Melalui Skema Penempatan Special Placement Program to Taiwan (SP2T)

Foto bersama Deputi KLNP, Elia Rosalina (tengah depan) bersama Staf BP3TKI Jakarta, staf BNP2TKI dan para PMI yang hendak berangkat ke Taiwan, Selasa

Jakarta, BNP2TKI, Senin (3/9/2019)___ Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) melalui BP3TKI Jakarta memberangkatkan 3 (tiga) orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Taiwan yang nantinya akan bekerja di Perusahaan Shingkong Textile, Taiwan. Penempatan ini melalui Skema  Mandiri atau disebut Special Placement Program to Taiwan (SP2T).
Ketiga orang PMI ini atas nama Dedy Harianto, Muhammad Ghani dan Wahyudin yang hari ini berangkat ke Taiwan melalui Skema mandiri atau SP2T (Special Placement Program to Taiwan) dan dilepas oleh Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi, Elia Rosalina, di Ruang Rapat Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi BNP2TKI, Jakarta, Selasa (3/9/2019). Seharusnya yang diberangkatkan berjumlah 4 orang, namun 1 orang diantaranya masih harus melengkapi dokumen sehingga yang dipastikan akan berangkat hanya 3 orang.
Ketiga PMI ini akan berangkat pada Selasa (3/9/2019) menggunakan maskapai China Airlines, CI-762 dari Soekarno Hatta Jakarta ke Taipei-Taiwan.  Sedangkan keberangkatan perdana PMI skema SP2T sudah dilakukan pada Rabu (17/7/2019) lalu, yaitu berjumlah 1 (satu) orang atas nama Monica Angelina.
Elia Rosalina mengatakan bahwa BNP2TKI telah mengunjungi dan melihat langsung tempat kerja calonPMI nantinya di Taiwan yaitu Shin Kong Textile Co., Ltd. Beliau juga sudah bertemu langsung dengan pemiliknya, Ministry of Labor (MOL) Taiwan dan penggagas program SP2T yaitu Direct Hiring Service Center (DHSC) Taiwan. Sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh calon PMI dan keluarga,selama calon PMI menjalankan pekerjaannya dengan baik dan taat pada peraturan.
Calon PMI juga harus menjaga kesehatan selama perjalanan menuju Taiwan karena akan langsung dilakukan medical check up setibanya CPMI di Taiwan. Jika ditemukan indikasi penyakit, maka calon PMI akan dikembalikan ke Indonesia.
“Program SP2T ini sudah dikembangkan oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Taiwan selama kurang lebih 5 tahun dan baru disepakati di tahun 2019. Kedepannya, BNP2TKI akan berusaha untuk mereplikasi program SP2T ini ke beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, Padang, dan Palembang”, ungkap Elia.
Taiwan merupakan salah satu tujuan favorit bagi PMI, karena daya tarik standar gaji yang cukup tinggi.  Selain itu,  perlindungan hukum bagi tenaga kerja asing di Taiwan juga lebih terjamin.  Dengan adanya skema SP2T ini maka ada pilihan bagi masyarakat pencari kerja yang berkeinginan bekerja ke Taiwan, selain yang selama ini (existing) melalui skema penempatan Private to Private atau melalui P3MI/Agency.
“Benefit dari penempatan SP2T adalah Zero Cost karena biaya ditanggung oleh pihak User Taiwan seperti biaya Visa, tiket keberangkatan, dan biaya medical check-up. SP2T ini adalah terobosan baru karena bisa mengurangi beban biaya penempatan yang ditanggung calon PMI dan juga mempercepat, serta menyederhanakan proses penempatan karena proses pedaftaran sampai keberangkatan melalui online system”, ujar Elia.
Bagi pencari kerja yang berminat bekerja ke Taiwan melalui skema SP2T, dapat mendaftar secara online melalui portal pencari kerja Jobsinfo BNP2TKI www.jobsinfo.bnp2tki.go.id.
“Harapannya semoga PMI menjadi sukses selama bekerja di luar negeri sehingga mampu menjadi Duta Bangsa dan juga Duta Keluarga”, tutupnya.**( Humas/Lily/ Flo/Ulfa/Yudi/Foto: Agrit)

27 August 2019

Literasi Keuangan untuk Pekerja Migran di Taiwan

Dikutip dari Liputan6, ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Taiwan meramaikan area penyelenggaraan literasi keuangan di Indonesia Exhibition Center, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Taiwan pada Minggu (25/8).

Literasi tentang edukasi remitansi tersebut digelar oleh Bank BRI bekerja sama dengan Bank Indonesia dan KDEI Taipei untuk memberikan wawasan terhadap para pekerja migran tentang pentingnya mengirim uang secara cashless ke tanah air.

Courtessy : Liputan6

“Perseroan antusias untuk menggelar pembekalan semacam ini agar para pahlawan devisa juga ter-update mengenai fasilitas dan fitur-fitur yang bisa dilayani oleh jaringan Bank BRI di luar negeri. Dengan adanya jaringan Bank BRI diluar negeri diharapkan dapat memberi kemudahan dan dapat mendorong para PMI untuk memanfaatkannya,” ungkap Bambang Tribaroto, Corporate Secretary Bank BRI.

Acara literasi dibuka oleh Kepala KDEI Taipei, Didi Sumedi. Dilanjutkan sesi pembekalan tentang remitansi dengan pembicara dari Bank Indonesia yang diwakili oleh Deputi Direktur Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional, Apep M. Komarna.
Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan salah satu penyumbang devisa bagi Indonesia. Menurut data Bank Indonesia pada tahun 2018, tercatat dana remitansi yang dikirimkan oleh PMI selama setahun sebesar USD 10,97 miliar atau sekitar Rp 155 triliun. Dana remitansi tersebut dihasilkan oleh sekitar 9 juta jiwa PMI yang tersebar di berbagai negara salah satunya Taiwan.

Di sisi lain Bank BRI optimistis pasar remitansi masih memiliki prospek bisnis yang cukup bagus dan diproyeksikan dapat terus tumbuh siginifikan.

Kegiatan literasi keuangan di Indonesia Exhibition Center, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Taiwan.

“Dengan jaringan counterpart di luar negeri dan jaringan unit kerja yang tersebar luas, kami yakin bisa mencatatkan kenaikan transaksi remitansi sebanyak 7,7 juta kali transaksi remitansi di akhir tahun ini,” jelas Bambang.
Saat ini terdapat 9.545 outlet dari 69 Counterpart Bank BRI yang tersebar di berbagai negara. Negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Qatar, Bahrain, Singapura, Brunei, Kuwait, Yordania, Australia, Timor Leste, serta negara-negara yang merupakan kantong PMI yakni Malaysia, Taiwan, Korea, Jepang, Hongkong, Taiwan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi.

Sumber : Liputan6

26 August 2019

Review Meeting Pilot Project Penempatan PMI Formal ke Taiwan Melalui Skema Special Placement Program to Taiwan (SP2T)


Usai kegiatan Review Meeting Pilot Project Penempatan PMI Formal ke Taiwan pada tanggal 21 s.d. 22 Agustus 2019 di Denpasar, Bali
Denpasar, BNP2TKI, Rabu (21/8) – Kedeputian KLN dan Promosi BNP2TKI baru saja melaksanakan kegiatan Review Meeting Pilot Project Penempatan PMI Formal ke Taiwan Melalui Skema Special Placement Program to Taiwan (SP2T) pada tanggal 21 s.d. 22 Agustus 2019 di Denpasar, Bali. Hadir dalam kegiatan tersebut pejabat dan perwakilan dari Ministry of Labor (MOL) Taiwan, Perwakilan TETO Jakarta, KDEI Taipei, Kemenaker, Kemendikbud, Kemenkumham dan unit kerja terkait dari BNP2TKI pusat maupun di daerah.
Dalam sambutan sekaligus membuka kegiatan ini, Elia Rosalina selaku Deputi KLN dan Promosi BNP2TKI menyampaikan bahwa Taiwan sebagai salah satu negara tradisional penempatan PMI di wilayah Asia Pasifik menempati urutan kedua terbesar dengan jumlah penempatan selama periode 2016 s.d. 2018 sebanyak 212.283 orang untuk sektor formal dan informal. Permasalahan klasik yang terus dihadapi oleh PMI adalah adanya kegiatan jual beli job yang dirasa sangat memberatkan dalam proses penempatan PMI ke Taiwan.
"Sebagai upaya pemerintah dalam menangani permasalahan tersebut, pada 14 Desember 2018 di Taipei telah dilaksanakan MoU antara IETO-TETO mengenai "Perekrutan, Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia." Salah satu pasal dalam MoU, Pasal 12 ayat 3menyebutkan bahwa selain sistem rekruitmen yang ada, Para Pihak sepakat untuk mempersingkat prosedur, menyederhanakan dokumen, untuk memberikan prioritas pada Program Re-Entry Hiring, dan untuk memperluas jenis pekerjaan pada Program Direct Hiring ke depan, apabila program tersebut diizinkan oleh peraturan Para Pihak", ujar Elia Rosalina.
Kegiatan review meeting ini juga merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja Delegasi BNP2TKI ke Taiwan dalam rangka Monitoring Pilot Project SP2T ke Taiwan yang dilaksanakan pada bulanJuni 2018 yang lalu. Pada kegiatan monitoring tersebut, Delegasi BNP2TKI didampingi oleh KDEI Taipei melaksanakan bilateral meeting dengan DHSC sebagai bentuk komitmen dan keseriusan kedua belah pihak dalam menjalankan program SP2T.
Selanjutnya pada pada sambutan kedua Mr. Tzai, Meng Liang selaku Deputy Director General MOL Taiwan menyampaikan Skema Penempatan ke Taiwan melalui Program Direct Hiring ini sudah dilakukan oleh sending countries lainnya, antara lain Thailand, Vietnam dan Filipina. Khusus Filipina sudah menjalankan program ini yang dikenal dengan Special Hiring Program for Taiwan (SHPT). BNP2TKI memandang bahwa skema ini dinilai dapat dijadikan sebagai solusi penempatan yang aman dan murah, bahkan zero cost sehingga membebaskan PMI dari pembebanan biaya berlebihan (overcharging) sebagai masalah klasik yang belum ada solusinya sampai dengan saat ini. Lebih jauh lagi diharapkan dapat meningkatkan persentase peningkatan PMI formal ke Taiwan serta sebagai solusi atau alternatif yang menjadi pilihan bagi PMI yang akan bekerja ke Taiwan tanpa menggangu skema eksisting (skema P to P).
Pada kegiatan Review ini dibahas mengenai bisnis proses penempatan ke Taiwan melalui skema penempatan Direct Hiring Service Center (DHSC) yang dinamakan Program Penempatan Khusus ke Taiwan (Special Placement Program to Taiwan/SP2T)Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap pilot project penempatan sektor manufaktur ke pabrik tekstil Shinkong Textile Co., Ltd.yang telah dilaksankan oleh BP3TKI Jakarta sebagai pelaksana Pilot Project. Kegiatan inidiharapkan menjadi forum terbaik untuk mendapatkan komitmen dari masing-masing pihak di Taiwan dan Indonesia untuk meningkatkan lagi penempatan PMI terampil di Taiwan melalui program SP2T dan memastikan bussinnes proccesnya dapat berjalan dengan baik dan lancar.**(Humas)
Sumber : BNP2TKI

Eli Astuti Dewi Sosok PMI Purna Berdaya Asal Lampung


Eli Astuti Dewi, Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna asal Sekampung, Lampung Timur, bersama Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid.
Bandar Lampung, BP3TKI (21/8) - Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Ungkapan ini  tepat disematkan kepada Eli Astuti Dewi, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna asal Sekampung, Lampung Timur yang sekarang memiliki usaha keripik jamur.  Produk makanan ‘Keripik Jamur Gres’ miliknya, terus maju dan berkembang cepat. 
Minggu, (18/8/2019), Ia mendapatkan Bantuan Wirausaha Pemula dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UMKM)  sebesar Rp 12.000.000, di Bandar Lampung. Dewi merupakan PMI Purna binaan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Lampung sejak tahun 2015, mengawali cerita suksesnya dengan jatuh bangun. 
Bekerja Ke Malaysia
Pada tahun 2007, Dewi berangkat ke Johor Bahru, Malaysia untuk bekerja sebagai Operator mesin jahit di SINGLUN GARMENT SDN BHD,  Perusahaan Garmen di Johor Bahru, Malaysia.  Akhir tahun 2008, kisah pilu menimpa Dewi. Suami Dewi, Edi,  yang juga bekerja di Johor Bahru, mengalami kecelakaan kerja di perkebunan,  yang menyebabkan kakinya cedera dan tidak dapat bekerja kembali sebagai pekerja kebun. Sejak saat itu, Dewi harus membagi waktunya untuk bekerja dan merawat sang suami. Ia mengaku hanya dapat mengirimkan sedikit uang untuk kebutuhan sehari-hari anaknya di kampung halaman. 
 “Gaji saya  sebagian besar digunakan untuk merawat suami saya, untuk pengobatan suami maupun menyewa rumah di Johor Bahru. Jadi saya bisa dibilang tidak memiliki tabungan yang dibawa pulang ke Indonesia,“ imbuh Dewi.
Pulang dari Malaysia tahun 2010, Dewi merasa malu karena pulang kampung tanpa membawa hasil. Hal ini yang menyebabkan ia ‘mengurung diri’ di rumah tanpa banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar selama kurang lebih 4  tahun. “Saat itu mungkin adalah salah satu titik terendah, saya merasa sedih, galau, dan malu. Saya tidak tahu dengan pasti apa yang  harus saya lakukan ke depannya,“ jelas Dewi. 
Mulai Bangkit
Dewi mulai ikut berorganisasi di perkumpulan pekerja migran purna bernama SBMI pada akhir tahun 2014. Oktober 2015, Ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Pelatihan Kewirausahaan PMI Purna di bidang budidaya jamur tiram yang diadakan BP3TKI Lampung. 
Ia mengikuti pelatihan selama 6  hari penuh di Balai Desa Banarjoyo, Batanghari, Lampung Timur. “Pelatihan dari BP3TKI Lampung tersebut membukakan mata saya bahwa ada perhatian dari Pemerintah terhadap PMI Purna, yang pada akhirnya memotivasi saya untuk membangun usaha dari nol. Dimulai dari kecil dulu ndak apa-apa, yang penting yakin,“ kenang Dewi. 
Selepas pelatihan, ia membangun usaha budidaya jamur tiram dengan membentuk kelompok usaha PMI Purna ‘Berkah Jamur’. Hasil panen jamur tiram dari budidaya jamur tiram dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari Dewi dan PMI Purna lainnya. Melihat peluang budidaya jamur tiram yang cukup menjanjikan, Dewi pun terus menekuni usaha ini. 
Sebagai instansi awal yang membina kelompok usaha PMI Purna, BP3TKI Lampung terus melakukan monitoring terhadap kelompok usaha PMI Purna selepas pelatihan, tidak terkecuali kelompok usaha yang diketuai Dewi. BP3TKI Lampung juga melakukan identifikasi kendala terkait pengembangan usaha PMI Purna baik melalui telepon maupun kunjungan lapangan. 
Pantang Menyerah
Awal tahun 2017, Dewi mengembangkan usaha dengan mengolah olahan jamur tiram menjadi keripik, bakso maupun olahan lainnya. Awalnya, Dewi sering mendapat kritik dari berbagai pihak terkait kualitas produknya. Ia pun terus meningkatkan kualitas produk dengan berbagai masukan yang ada. 
Melihat kegigihannya yang tinggi dalam membangun usaha, BP3TKI Lampung terus memotivasi Dewi. BP3TKI Lampung beberapa kali mengikutsertakan Dewi dalam acara Pameran produk seperti Trade Expo Indonesia Tahun 2017 oleh Kementerian Perdagangan, Pameran Lampung Fair, serta kegiatan peningkatan kapasitas usaha lainnya.  

BP3TKI Lampung turut menjembatani PMI Purna wirausaha kepada para pihak yang dapat memberikan layanan pengembangan usaha seperti pihak perbankan, Dinas Koperasi dan UMKM setempat, serta Instansi Pemerintah maupun stakeholder lainnya.  Dalam hal ini, Dewi dengan cepat dikenal oleh kalangan Dinas Kabupaten Lampung Timur karena dirinya selalu aktif dalam kegiatan Dinas serta memasarkan produk tanpa henti. Ia pun menjadi salah satu pelaku UKM unggulan Kabupaten Lampung Timur. 
Berkat kerja kerasnya pula, produk Keripik Jamur milik Dewi mendapatkan perizinan gratis dalam hal Nomor Pangan Izin Rumah Tangga (P-IRT)  serta Sertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Terima Kasih BP3TKI Lampung
Dewi turut dipercaya menjadi CO KKBM (Community Organizer Komunitas Keluarga Buruh Migran) di Lampung Timur oleh BP3TKI Lampung. Salah satu tugas CO KKBM  yaitu mendampingi kelompok usaha PMI Purna di beberapa wilayah di Lampung Timur.
“Dewi adalah salah satu contoh nyata PMI Purna Sukses yang pernah kami bina dari nol. Dulu, kami yang melatih beliau. Sekarang, Dewi turut serta dalam mendampingi PMI Purna yang mengalami kendala dalm berwirausaha di daerah Lampung Timur,“ ujar Ahmad Salabi, Kepala BP3TKI Lampung.
"Dukungan yang terus kami berikan kepada Bu Dewi bukan tanpa alasan. Kami melihat Bu Dewi sebagai salah satu PMI Purna yang pantang menyerah dan selalu ingin maju. Ditambah lagi, ia dapat menjadi sosok yang menginspirasi PMI Purna Lampung lainnya,“ ujar Waydinsyah, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Lampung. 
Saat ini, Dewi mendapatkan pesanan reguler keripik jamur dari berbagai daerah di Lampung. Pesanannya pun meningkat saat hari raya dan hari-hari besar. Rencananya, ia akan menggunakan uang bantuan wirausaha pemula untuk mengembangkan usaha keripik jamur dan budidaya jamur miliknya.
Diakui Dewi, segala hal baik dalam berwirausaha yang telah direngkuhnya tidak lepas dari peran pemerintah, terutama BP3TKI Lampung. “Banyak pihak yang membantu saya, namun BP3TKI Lampung lah yang membuka pintunya,” ungkap Dewi. ** (Humas/BP3TKI LAMPUNG/PS)

Sumber : http://www.bnp2tki.go.id/

23 August 2019

Pemda Provinsi Banten dan BNP2TKI Dorong PMI Purna Lebih Berdaya dan Mandiri Melalui Wirausaha


Serang, BNP2TKI, Selasa (20/08/2019) - Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Serang bersama BNP2TKI mengikuti kegiatan “Rapat Koordinasi Kebijakan dan Pengembangan Kewirausahaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna di Ruang Rapat Lantai 7 SKPD Terpadu Provinsi Banten, Rabu 14 Agustus 2019. Rapat ini diselenggarakan oleh Biro Bina Perekonomian Setda Provinsi Banten.
Rapat Koordinasi ini dihadiri perwakilan dari masing-masing Dinas Tenaga Kerja serta Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten/Kota se-provinsi Banten. Rapat di pimpin oleh Mahdani selaku Plt. Kepala Biro Bina Perekonomian Setda Provinsi Banten.
Menurut Mahdani, sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus terus dilakukan dalam rangka menyelaraskan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017. “Salah satu upaya sebagai bentuk Pelindungan Pekerja Migran Indonesia adalah dengan menjalankan program pengembangan kewirausahaan untuk PMI Purna khususnya asal provinsi Banten agar mereka tidak kembali lagi bekerja ke luar negeri dan mau berwirausaha di daerahnya. Hal ini juga secara tidak langsung dapat mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Banten”, ujarnya.
Di tempat yang sama, Direktur Pemberdayaan BNP2TKI, A. Gatot Hermawan dalam paparannya menambahkan, alur program Pemberdayaan PMI Purna salah satunya adalah mencakup pemberdayaan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Goal-nya Pemberdayaan PMI Purna ini adalah untuk mewujudkan PMI EMAS. E-nya yaitu Ekonomi, ekonomi PMI dan keluarganya meningkat; M-nya yaitu Mandiri, PMI mandiri tanpa perlu bekerja ke luar negeri; A-nya yaitu Aman, aman dalam bekerja dan berusaha; dan S-nya yaitu Sejahtera, PMI dapat sejahtera bersama keluarganya”, ujarnya.
Selanjutnya, kegiatan rapat koordinasi ini masih akan berkelanjutan kedepannya sebagai bentuk komitmen bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menghasilkan beberapa rumusan kebijakan tentang program pengembangan kewirausahaan PMI Purna dengan harapan menghasilkan suatu Peraturan Daerah sebagai payung hukum dalam pelaksanaannya nanti.

17 August 2019

Gaji Pokok PMI Sektor Formal Taiwan Diperkirakan Kembali Naik Tahun 2020

Ilustrasi Google


Dikutip dari media online PTS Taiwan bahwa Upah minimum bulanan di Taiwan tahun depan akan dinaikkan dari NT$23.100 menjadi NT$23.800. Kenaikan yang disetujui dalam rapat Kementrian Ketenagakerjaan (MOL) sepanjang enam jam ini diperkirakan menguntungkan 2,3 jutaan orang, dan adalah kali keempatnya secara berturutan mengalami kenaikan.

Sebelum rapat peratifikasian dimulai, perwakilan serikat buruh mengungkapkan dukungan bagi kenaikan upah minimum, mengingat bahwa gaji bulanan pokok di Taiwan hanya menduduki urutan ke 18 di antara 28 negara OECD dan gaji per jam juga lebih rendah dari angka rata-rata.

Anggota komisi peratifikasi dari serikat buruh // Zhuang Jue-an. Di sini kami mengimbau perwakilan pihak majikan Tidak lagi menggunakan pembekuan sebagai alat Seharusnya bersimpati pada kami dari pihak buruh

Sementara itu, pihak majikan menggagaskan pembekuan standar upah minimum tahun depan. Usai rapat, perwakilan pihak majikan mengungkapkan sikap tidak puas dan menolak mendukung kenaikan yang diklaim dilaksanakan pemerintah demi keuntungan pemilu.

Anggota komisi peratifikasi dari perwakilan majikan // He Yu Kalian meminjam pemerintah untuk menetapkan kebijakan Dari pihak perwakilan majikan Kami tidak akan mendukung kebijakan bapak menteri Serikat buruh imbau sistematisasi upah minimum

Serikat buruh mengritik bahwa alasan penolakan dari pihak majikan selalu sama saja setiap tahun. Saat meyakinkan kenaikan berturutan empat tahun, mereka mengeluh bahwa skala kenaikan gaji bulanan hanya 3%, juga menyesalkan kembali gagalnya Taiwan dalam merespon masalah rendahnya gaji, dan sekali lagi menyerukan Presiden Tsai Ing-wen menunaikan janji politiknya untuk mensistematisasi upah minimum.

Catatan Tambahan dari Penulis untuk Sektor Informal :
Perlu dipahami bahwa kenaikan gaji PMI Sektor Informal tidak otomatis (sebagaimana halnya sektor formal) dikarenakan sektor informal tidak masuk dalam Peraturan Perburuhan Taiwan. Untuk kenaikan gaji informal melalui kesepakatan antara Indonesia dan Taiwan.

Gaji PMI sektor Informal saat in minimali NT$ 17.000 untuk PMI Penjaga orang sakit (caregiver) dan PLRT. Disarankan, bila mau perpanjang kontrak upayakan negosiasikan gajinya agar lebih dari NT$ 17,000. Bagi yg perpanjang kontrak jangan lupa negosiasi agar gajinya bisa naik, baca http://www.savepmi-taiwan.org/2017/03/jangan-lupakan-negosiasi-gaji-dalam.html

07 August 2019

PENGUMUMAN Surat Ijin Melaksanakan Hari Raya Idul Adha 2019

Sobat PMI Taiwan, bagi yang akan melaksanakan Ibadah Sholat Idul Adha, nanti bisa memperlihatkan pengumuman resmi ini kepada majikannya.
Semoga dapat izin ya !


Sumber : KDEI Taipei

BERITA ONLINE (RSS)

Rangkuman Berita Online Populer